Jumat, 02 Mei 2014

Apabila Rindu


apabila engkau merasa rindu, biarkanlah rasa rindu itu ada. Curahkan semua rasa cinta dan rasa rindumu hanya kepada Allah, janganlah engkau memberitahunya akan rasa cintamu, cukup engkau dan Allah saja yang mengetahui akan rasa itu.
cukuplah engkau doakan dia disetiap sepertiga malam dan dilima waktumu.
Janganlah engkau merasa lelah akan setiap doa yang engkau panjatkan kepada Allah tentangnya.
Bukannya Allah tak mengabulkan permintaanmu tentangnya, tetapi waktunya belum datang untukmu.
Bukannya Allah tak mengabulkan permintaanmu tentangnya, tetapi mungkin Allah sedang menciptakan sebuah cerita yang amat indah melebihi permintaanmu.
Bukannya Allah tak mengabulkan permintaanmu tentangnya, tetapi mungkin Allah sedang bicara kepadamu tentang arti kesabaran.
Dan, apabila permintaanmu tentangnya tak tersampaikan ataupun bertepuk sebelah tangan, tetaplah untuk selalu berkhusnuzan kepada Allah.
Dan, apabila permintaanmu tentangnya tak tersampaikan ataupun bertepuk sebelah tangan, mungkin Allah sedang berbicara tentang keikhlasan kepadamu.
tetaplah percaya akan segala ketentuan Allah, karena bila dia memang bukan untukmu, maka Allah akan menghapus cinta dalam diammu secara perlahan.

Selanjutnya Kita….




Malam ini, semua tampak lebih berwarna. Aku sudah melakukan banyak hal sendirian, melatih kesendirian. Mungkin, kamu akan terkejut melihat perubahanku, kamu akan menggeleng lebih lama sambil mengamati gerak-gerikku, aku sudah berbeda sekarang. Atau kalau boleh dibilang, bukan hanya aku, kamu juga berbeda sekarang. Seiring waktu berjalan, semua berubah tanpa persetujuan kita. Tiba-tiba saja aku sudah seperti ini dan kamu sudah tak lagi disini.
Akhirnya, ya memang akhirnya, karena tak ada lagi yang akan terulang. Hari-hari yang dulu aku dan kamu lalui seperti gelembung basah yang sangat mudah pecah. Realita berbicara lebih banyak, sementara aku dilarang untuk bermimpi terlalu jauh, apalagi mengharap semua yang telah terjadi bisa terulang kembali. Jika dulu kita begitu manis, entah mengapa sekarang berubah jadi miris. Memang hanya persepsiku saja yang melebih-lebihkan segalanya, mengingat perpisahan kita terjadi tanpa sebab, sulit ditebak, sampai aku muak mencari-cari yang kurasa tak pernah hilang.
Begitu banyak mimpi yang ingin kita wujudkan, kita ceritakan dengan sangat rapi dalam setiap bisikan malam, adakah peristiwa itu tersimpan dalam ingatanmu? Aku berusaha menerima, kita semakin dewasa dan semakin berubah dan segala. Tapi, salahkah jika kuinginkan kamu duduk disini sejenak, mendekapku sebentar dan kembali menceritakan mimpi-mimpi kita yang lebih dulu rapuh sebelum sempat terwujudkan?
Aku sudah berusaha untuk bernafas tanpamu, nampaknya semua berhasil dan berjalan baik-baik saja. Tapi, di luar dugaanku, setiap malam-malam begini kamu sering kembali dalam ingatan, berkeliaran. Pikiranku masih ingin menjadikanmu sebagai topik utama, dan hatiku masih mau membiarkanmu berdiam lama-lama disana. Aneh memang jika aku sering memikirkan kamu yang tak pernah memikirkanku. Menyakitkan memang jika harus terus mendewakan kenangan hanya karena masa lalu terlalu kuat untuk dihancurkan.
Beginilah kita sekarang, Ndun. Tak lagi saling bersapa, tak lagi saling bertukar kabar. Semua seperti dulu, ketika kita tak saling mengenal, segalanya terasa asing. Kosong. Apapun yang kita lakukan dulu seperti terhapus begitu saja oleh masa, hari berganti minggu, minggu segera beranjak menuju bulan, sejak saat itu juga jantung kita tak lagi mendenyutkan rasa yang sama.
Dengarkan aku, Ndun. Inilah kita yang sekarang, berusaha melupakan yang disebut kenangan. Berusaha melawan ketakutan yang disebabkan perpisahan. Siapapun yang lebih dulu melupakan tak menjamin semua akan benar-benar hilang…

25 Maret Dan Kamu



Aku hanya memerhatikanmu dari sudut dunia maya yang tak tersentuh. Aktivitas sehari-harimu kupantau lewat tulisan bisu bernama facebook. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sudah hampir 2 tahun lebih sejak aku pertama kali menambahkanmu sebagai teman di Facebook, sejak itu aku diam-diam memperhatikanmu tanpa berani menyapamu lebih dulu, tanpa mau mengusik aktivitasmu. Itulah aku, yang diam-diam memerhatikan sosokmu. Dan tanpa sadar aku sedikit memberanikan diri untuk mengganggu aktivitasmu, memulai dengan dialog-dialog ringan, dan kita pun mulai saling memberanikan hati untuk membuka diri.
Masih ingatkah dengan sepotong kata itu? Kata yang mampu mengubah semuanya, satu kata  yang mampu mengisi tahun itu dengan kebahagian-kebahagiaan kecil, satu kata yang mampu menjadikan hari-hariku begitu berwarna. Kalimat “ hey” yang mampir ke dalam inbox-mu benar-benar membawa kebahagian kecil buatku, kau jawab dengan santai dan riang, kita tertawa, lalu kita bercanda, lalu kita saling berbicara, walau hanya sekedar lewat tulisan, walau hanya melalui jentikan jemari di keyboard handphone.
Kala itu 25 Maret 2011, setelah kedekatan kita yang aku rasakan, mungkin apakah kau masih ingat secuil kalimat yang aku ungkapkan malam itu? Kalimat sederhana namun sungguh-sungguh yang menjadi awal dari semuanya,kalimat yang entah mengapa membuat lidah ku kaku walaupun tanpa ku ucapkan langsung, kalimat “ maukah kau menjadi kekasihku?”.  Lama ku menunggu jawabmu, lalu kau menjawab “ya, aku mau jadi kekasih mu”. Ya!, aku ingat sekali dengan jawaban itu.
Sementara aku dan kamu membiarkan semuanya mengalir, entah mengapa selalu ada senyum kecil tiap kali sms-mu nongol di inbox handphone-ku. Entah mengapa selalu ada kupu-kupu yang menari di perutku setiap kali perhatian sederhana yang kauberikan menghangatkan hari-hariku. Kamu sempat menjadi sebab senyum dan tawaku setiap harinya.
Kamu, wanita cerdas yang begitu menyukai winnie the pooh. Wanita dengan pola pikir yang sampai saat ini sangat sulit aku tebak. Ingat waktu kita pernah bercanda banyak hal konyol tentang boneka kesayangan mu? Aku yang selalu menamai boneka mu yang selalu aku panggil si winnie dan monk, kamu yang menjaga nya yang selalu memeluk nya saat terlelap. Alangkah indahnya masa-masa itu, masa dimana masih ada kamu dan masih ada kata “ kita “. Masa dimana aku masih begitu mudah menghubungimu tanpa takut mengganggumu.
Kamu, si wajah padang dengan mata indah. Si kulit putih yang jago nulis dengan tangan kiri. Si cerdas mantan anggota bendahara osis. Siswi salah satu sekolah swasta di Jambi. Si jutek yang terkadang menjadi pemalu. Anak IPA dengan jiwa sosial tinggi. Wanita yang tak suka berdebat. Wanita yang sangat menyukai pena tinta dengan ujung yang sangat kecil yang kemana-mana selalu di letakkan di kantong baju. Ah, apa yang tidak kuketahui tentangmu? Hanya tak cukup jika ku tuliskan disini. Semua hal tentangmu tak pernah kecil di mataku.
Dua tahun sudah peristiwa itu berlalu, kini aku lanjutkan hidupku, dan kau lanjutkan hidupmu. Kita punya jalan masing-masing, kita punya ruang dan waktu masing-masing, aku di Yogya, kamu di Yogya, entah mengapa jarak yang dekat pun sekarang terasa jauh. Jarak tak pernah adil, tak mampu menyatukan kita kembali yang begitu berbeda.
Setidaknya, kaupernah datang dalam hidupku dan mengajari banyak hal. Dalam waktu singkat aku mengenalmu, dalam waktu yang lama, aku masih mengingatmu. Masih ingatkah kamu dengan lagu yang selalu kita dengarkan bersama? “ Ternyata Cinta “ yang dinyanyikan oleh Anji. Ada syair yang sama-sama kita suka, “ Ternyata cinta yang menguatkanku.” Yayaya! Kamu memang membuatku jatuh cinta! Entah bagaimana perasaanmu?
Aku menulis ini ketika “ Ternyata Cinta “ menyentuh lembut gendang telingaku. Tiba-tiba wajahmu muncul, perhatianmu kembali hadir di otakku, sungguh aku tak mau peduli, lagu ini benar-benar menyudutkanku setengah mati! Sebuah lagu memang mampu menjebloskan seseorang kembali mengingat masa lalunya. Tiba-tiba saja aku merindukanmu! Sial! Padahal sudah ku lakukan berbagai cara. Tapi, itulah sebabmu hadir dalam hidupku, menghasilkan rindu walau bagaimanapun cara menyangkal nya hingga saat ini. 2 tahun lebih kisah itu ada dan kau masih tetap yang terindah.

Selamat tanggal 25, si chabi dengan sejuta kejutan, si chabi si calon sarjana !! ;)  



Lagi...Tentang Kita



Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memperhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada disana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.
Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukanlah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah perduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak memiliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.
Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja kaupahami. Karena aku sudah tahu, kamu sangat sulit untuk diajak basa-basi, apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurb yang selalu kau benci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta, kaumalah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu, namun kautulikan telinga.
Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan air mata menjadi senyum pura-pura? Tentu saja, kautak akan melihatnya, sejauh yang kutahu kamu tidak peka. Dan, mungkin saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama tak saling bertatap mata.
Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali, aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran, dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan. Ini tentang kita. Ah... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka cerita lama. Aku pun begitu, tak ingin menyentuh bayang-bayangmu yang samar, tak ingin mereka-reka senyummu yang tak lagi untukku.
Kalau boleh aku jujur, kata “dulu” begitu akrab di otak, fikiran, dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat  mendalam, sampai-sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali, aku diam-diam menyebut namamu dalam sepi, dan membiarkan kenangan terbang mengikuti gelitik manja angin, tertuip jauh namun mungkin akan kembali.
Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupaka? Jikan memang ada kata “saling”, tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, nafas kita, kerinduan kita, memiliki denyut dan detak yang sama.
Tidak usah dibawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sejak kamu tak lagi disini, sejak aku dan kamu memilih jalan sendiri-sendiri, aku malah sering main dengan sepi, sulit untuk dipungkiri.
Dan, di antara tugas laporan yang membuat jemariku pegal, dia antara kertas-kertas yang berserakan. Aku masih merindukanmu...

Ku titipkan Salam

aku menitipkan untaian salam suci kepada rasi bintang piscis austrinus yang kupandangi. berharap bisa melihat sedikit saja rona wajahmu yang terselubung oleh nebula yang begitu pekat. 365 hari dalam setahun kita berdiri diatas gravitasi yang sama. 315.536.000 detik dalam setahun kita bernafas dengan oksigen yang sama. cinta itu seperti syahadat, indah mengalun halus menelusup kedalam paru-paru-, bersemayam dalam setiap eritrosit yang ada. cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia tak pernah meminta untuk di imajinasikan. mungkin kisah kita tak sekompleks Sayyidina Ali dan Fatimah Az Zahra. kisah yang mampu mengaum keras diluarnya bimasakti. kamu… andai kamu tahu, rindu ini begitu akut. mampu memecah kesunyian, menggelayut erat di tiap 5 indera yang ku punya. aku telah labuhkan hati ini, telah bentangkan layar dan siap singgah dirongga-rongga tulang rusukmu. Allah telah meniupkan namamu disela-sela keimananku. Allah telah menancapkan suara indahmu yang melanda seluruh partikel tubuhku. apa perlu aku meminjam kapal Nabi Nuh untuk melihat sejenak sinar matamu? apa perlu aku meminjam tongkat Nabi Musa untuk membelah jarak dan seketika menjamahmu? wahai engkau yang lebih dekat dari udara. wahai yang lebih menjerat dari pada gravitasi.

semoga Allah kelak menyatukan kita. ditempat dimana ombak menari dengan indah, kicauan burung yang bergelora manis, dan dimana hatiku dan hatimu menyatu menggetarkan hati bumi.