Selanjutnya Kita….
Malam ini, semua tampak
lebih berwarna. Aku sudah melakukan banyak hal sendirian, melatih kesendirian.
Mungkin, kamu akan terkejut melihat perubahanku, kamu akan menggeleng lebih
lama sambil mengamati gerak-gerikku, aku sudah berbeda sekarang. Atau kalau
boleh dibilang, bukan hanya aku, kamu juga berbeda sekarang. Seiring waktu
berjalan, semua berubah tanpa persetujuan kita. Tiba-tiba saja aku sudah
seperti ini dan kamu sudah tak lagi disini.
Akhirnya, ya memang
akhirnya, karena tak ada lagi yang akan terulang. Hari-hari yang dulu aku dan
kamu lalui seperti gelembung basah yang sangat mudah pecah. Realita berbicara
lebih banyak, sementara aku dilarang untuk bermimpi terlalu jauh, apalagi
mengharap semua yang telah terjadi bisa terulang kembali. Jika dulu kita begitu
manis, entah mengapa sekarang berubah jadi miris. Memang hanya persepsiku saja
yang melebih-lebihkan segalanya, mengingat perpisahan kita terjadi tanpa sebab,
sulit ditebak, sampai aku muak mencari-cari yang kurasa tak pernah hilang.
Begitu banyak mimpi
yang ingin kita wujudkan, kita ceritakan dengan sangat rapi dalam setiap
bisikan malam, adakah peristiwa itu tersimpan dalam ingatanmu? Aku berusaha
menerima, kita semakin dewasa dan semakin berubah dan segala. Tapi, salahkah jika
kuinginkan kamu duduk disini sejenak, mendekapku sebentar dan kembali
menceritakan mimpi-mimpi kita yang lebih dulu rapuh sebelum sempat terwujudkan?
Aku sudah berusaha
untuk bernafas tanpamu, nampaknya semua berhasil dan berjalan baik-baik saja.
Tapi, di luar dugaanku, setiap malam-malam begini kamu sering kembali dalam
ingatan, berkeliaran. Pikiranku masih ingin menjadikanmu sebagai topik utama,
dan hatiku masih mau membiarkanmu berdiam lama-lama disana. Aneh memang jika
aku sering memikirkan kamu yang tak pernah memikirkanku. Menyakitkan memang
jika harus terus mendewakan kenangan hanya karena masa lalu terlalu kuat untuk
dihancurkan.
Beginilah kita
sekarang, Ndun. Tak lagi saling bersapa, tak lagi saling bertukar kabar. Semua
seperti dulu, ketika kita tak saling mengenal, segalanya terasa asing. Kosong.
Apapun yang kita lakukan dulu seperti terhapus begitu saja oleh masa, hari
berganti minggu, minggu segera beranjak menuju bulan, sejak saat itu juga
jantung kita tak lagi mendenyutkan rasa yang sama.
Dengarkan aku, Ndun.
Inilah kita yang sekarang, berusaha melupakan yang disebut kenangan. Berusaha
melawan ketakutan yang disebabkan perpisahan. Siapapun yang lebih dulu
melupakan tak menjamin semua akan benar-benar hilang…

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda