Lagi...Tentang Kita
Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan,
juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan
perasaan itu, agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukanlah dengan berjauhan
seperti ini, semua terasa lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah perduli,
seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak memiliki rasa perhatian.
Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.
Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian,
atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja kaupahami. Karena aku sudah
tahu, kamu sangat sulit untuk diajak basa-basi, apalagi jika berbicara soal
cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume
lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan
sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurb yang
selalu kau benci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta, kaumalah tertawa. Seperti
saat kita masih bersama, aku berkata rindu, namun kautulikan telinga.
Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau
dengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air
mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan air mata menjadi senyum pura-pura? Tentu
saja, kautak akan melihatnya, sejauh yang kutahu kamu tidak peka. Dan, mungkin
saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama tak saling bertatap
mata.
Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali, aku
seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran,
dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan. Ini
tentang kita. Ah... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka
cerita lama. Aku pun begitu, tak ingin menyentuh bayang-bayangmu yang samar,
tak ingin mereka-reka senyummu yang tak lagi untukku.
Kalau boleh aku jujur, kata “dulu” begitu akrab di
otak, fikiran, dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat,
sangat mendalam, sampai-sampai tak mampu
terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali, aku
diam-diam menyebut namamu dalam sepi, dan membiarkan kenangan terbang mengikuti
gelitik manja angin, tertuip jauh namun mungkin akan kembali.
Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih
baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang
perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling
melupaka? Jikan memang ada kata “saling”, tapi mengapa hatiku masih ingin terus
mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang,
jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan,
aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus
disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali
berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan
kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, nafas kita, kerinduan kita, memiliki
denyut dan detak yang sama.
Tidak usah dibawa serius, hanya beberapa rangkaian
paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang
menghantui. Sejak kamu tak lagi disini, sejak aku dan kamu memilih jalan
sendiri-sendiri, aku malah sering main dengan sepi, sulit untuk dipungkiri.
Dan, di antara tugas laporan yang membuat jemariku pegal, dia antara kertas-kertas yang berserakan. Aku masih merindukanmu...

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda